Bagaimana Cara Mengontrol Emosi Terhadap Anak

Bagaimana Cara Mengontrol Emosi Terhadap Anak. Pagi ini saya dikejutkan dengan berita viral di twitter mengenai pembunuhan seorang ibu terhadap putrinya yang berusia 6 tahun!  Sambil duduk depan teras rumah , saya membaca thread di  twitterland dan merasa syok seketika. Masyaallah! Mengapa hal semacam itu bisa sampai terjadi? faktor apa yang memicu sang ibu hingga tega melenyapkan nyawa sang putri?  apakah ini pembunuhan berencana atau tidak disengaja? 

Setelah saya membaca berita lengkapnya di salah satu portal berita online yang mengatakan bahwa sang ibu kesal dengan sang anak karena sulit menerima pembelajaran saat belajar online atau PJJ. Menurut investigasi polisi, Sang ibu awalnya melakukan kekerasan fisik seperti  mencubit, memukul dengan tangan dan sapu hingga mendorong sang anak ke lantai hingga kepalanya terbentur dan meninggal seketika.

Saya menyimpulkan kalau sang ibu mengalami kesulitan yang luar biasa dalam mengendalikan emosinya dan saya yakin masalah ini juga dialami setiap ibu dimasa PJJ ini. 

Mengapa Seorang Ibu Bisa Menjadi Mudah Marah

Pergantian peran pasti akan dialami oleh setiap wanita dalam hidupnya. Berawal menjadi seorang putri dari ayah dan ibunya, menjadi seorang kakak atau adik, menjadi sahabat, menjadi murid dan akhirnya menjadi seorang istri dan ibu. Pergantian peran  ini awalnya akan diterima dengan baik, tetapi setelah dijalani pasti akan bertemu dengan si dia yang bernama adaptasi. 

Adaptasi menjadi seorang ibu penerimaannya di setiap wanita akan berbeda. Bergantung pada kesiapan, ilmu dan supporting system. Menyadari dan memahami peran baru sebagai seorang ibu sangatlah penting. Sayangnya proses ini juga tidak mudah dilalui oleh setiap ibu. Semua tahapan menjadi ibu berproses dan tidak langsung menghasilkan ibu yang penyabar dan penyayang begitu sang anak lahir. Hanya makan mie yang memiliki efek nikmat dan kenyang seketika tapi tidak dengan Adaptasi menjadi seorang ibu.  

Perjalanan menjadi seorang ibu terjadi begitu cepat tanpa jeda bahkan istirahat. Semua diawali dengan hamil selama sembilan bulan dengan susah payah dan segala macam adaptasinya.  Lalu tibalah saatnya melahirkan yang juga dilalui dengan usaha yang tidak mudah hingga nyawa menjadi taruhannya. Lantas setelah itu apakah ibu bisa berhenti sejenak merasakan euphoria melahirkan? tentu tidak.

Begitu melahirkan, seorang ibu “ditodong” untuk segera menyusui anaknya dan episode berlanjut menuju begadang setiap malam. Sudah bisa dibayangkan betapa lelahnya proses menjadi seorang ibu. Disinilah dibutuhkan supporting system dari keluarga dan sahabat. Karena bukan tidak mungkin seorang ibu yang kelelahan dan mulai luntur jati diri  mengalami Baby blues syndrome hingga postpartum trauma yang memicu depresi dan emosi yang tidak stabil pada ibu.

Adaptasi yang belum tuntas dipahami dan baby blues syndrome dapat menjadi cikal bakal munculnya emosi tidak stabil seorang ibu terbentuk termasuk amarah. Jika tidak diselesaikan maka ibu akan memendam banyak emosi negatif yang sewaktu-waktu akan meledak tak terbendung dan melahirkan luapan emosi berupa tindakan fisik seperti mencubit, memukul dan mendorong anak bahkan di luar kesadarannya sendiri. Inilah yang terjadi pada kasus viral di atas. 

Dampak buruk jika seorang ibu tidak dapat mengontrol emosi terhadap anak

Kejadian viral yang saya ceritakan diatas mungkin terlalu ekstrim jika saya jadikan contoh walau begitulah realitanya.  Dalam skala kecil, jika seorang ibu tidak dapat mengontrol emosi maka perkembangan psikologis anak yang menjadi taruhannya. Ibu yang kerap marah dan melakukan kekerasan fisik akan menyebabkan anak memiliki trauma yang berbekas hingga dia dewasa dan bahkan setelah berkeluarga. Bukan hanya itu, perasaan tidak dicintai dan diakui sebagai seorang anak akan membentuk perilaku defensif  seperti :

  1. Mencuri
  2. Berbohong
  3. Bertindak kasar
  4. Malas belajar/sekolah
  5. Mengganggu adik/teman
  6. Merusak barang
  7. Tidak patuh pada orangtua 

Dampak yang paling besar dan paling buruk adalah, sang anak kelak akan melakukan hal yang sama seperti yang ia terima saat kecil pada anak-anaknya nanti ( ghost parenting ) dan lingkaran ini akan terus berjalan layaknya lingkaran setan jika tidak segera dihentikan dari sekarang yang diawali dari sang ibu. sehingga sang anak akan memiliki Inner child yang tidak terselesaikan. Kalau sudah begini lantas solusinya bagaimana? 

Pentingnya Supporting System

Emosi yang meluap dan berubah bentuk menjadi amarah serta tindakan fisik pada dasarnya dipicu oleh rasa lelah yang tak berujung dan kurangnya waktu bagi seorang ibu untuk istirahat dan memanjakan dirinya sendiri. Disinilah kehadiran suami dan jika ada anggota keluarga lainnya diperlukan. Bentuk dukungan ini bisa dimulai dari hal yang sederhana dan ringan.  berikut beberapa dukungan yang bisa diberikan kepada sang ibu :

  1. Membantu mengerjakan tugas rumah tangga

Salah satu bentuk dukungan  ringan yang bisa dilakukan oleh suami atau anggota keluarga lainnya adalah dengan membantu sang ibu menyelesaikan tugas domestik seperti pekerjaan cuci – mencuci baju atau piring kotor , memasak dan menyetrika. Tentu hal ini akan berdampak luar biasa pada psikologis ibu hamil atau ibu melahirkan dan menyusui. Satu beban akan terangkat dan sang ibu akan merasa ringan serta bisa lebih fokus terhadap anak dan dirinya. 

  1. Menjadi keranjang emosi sang ibu

Bentuk dukungan lain yang paling penting adalah dengan mendengarkan segala keluh kesah dan hujan air mata selama proses adaptasi. Terkadang, para ibu hanya ingin didengar sehingga segala risau, sedih dan khawatir yang berkecamuk dalam dirinya terurai sehingga tidak ada lagi emosi yang terpendam. Selain mendengarkan keluhan, memberikan pelukan hangat juga dapat memberikan rasa lega bagi sang ibu. 

  1. Membantu mengurus bayi dan  atau anak

Tidak ada salahnya membantu sang ibu mengurus anak seperti memandikan atau menyuapi anak sesekali terlebih lagi kalau sang ibu terlihat begitu kerepotan dengan urusan rumah tangga atau mengurus anak yang lain (jika memiliki anak lebih dari satu). Percayalah, hal tersebut sungguh membuat sang ibu bahagia dan merasa didukung sepenuhnya.

  1. Memberikan waktu bagi ibu untuk dirinya sendiri

Kesibukan mengerjakan tugas domestik dan keluarga berimbas pada tidak adanya waktu bagi seorang ibu untuk dirinya sendiri. Hal ini juga dapat memicu seorang ibu sulit mengontrol emosinya. Berikan waktu satu hari atau beberapa jam dalam seminggu bagi sang ibu untuk bersenang-senang atau melakukan hobinya. seperti berjumpa dengan sahabat atau sekedar pergi ke salon. 

Jika hal tersebut dirasa sulit dikarenakan anak yang memiliki separation anxiety yang cukup parah, maka biarkan sang ibu melakukan hobinya seperti menulis, menggambar, menari, menanam, senam atau hobi lainnya. Akan lebih baik lagi jika hobi sang ibu difasilitasi. sehingga emosi negatif akan terurai dan berubah bentuk menjadi energi positif dan menghasilkan karya yang tentu akan membuat keluarga bangga.

  1. Dukung sang Ibu untuk terus melakukan pengembangan diri

Di era yang serba digital seperti sekarang, akses terhadap ilmu dan informasi serta jaringan komunitas sangat mudah. Maka, berikan sang ibu motivasi untuk terus melakukan pengembangan diri terkait menjadi seorang ibu agar pengetahuan ibu bertambah dan berkembang. Sehingga jika ada permasalah terkait pengasuhan anak, sang ibu tidak akan mengalami kebuntuan atau kebingungan. Bentuk dukungan bisa diberikan lewat membelikan buku atau dukung ibu untuk bergabung dengan komunitas parenting. Melalui komunitas sang ibu dapat bertukar informasi dan ilmu pengasuhan anak lewat diskusi atau kuliah online/whatsapp. 

Kepada para ibu, kamu tidak sendirian

Saya tahu, menjadi ibu itu tidak mudah. Banyak hal yang harus dipelajari dan diurus dalam waktu yang bersamaan. Merasa over exhausted sudah tentu, stress apalagi. Tetapi ingatlah, tugas menjadi seorang ibu jika dijalani dengan kesabaran dan ikhlas hadiahnya surga. 

Jika amarah dirasa akan segera menemui puncaknya dan segera meledak layaknya gunung berapi, lakukan lah hal berikut :

  1. Tarik nafas dan keluar ruangan
  2. Jika tangan gatal ingin memukul atau mencubit, lampiaskan dengan melakukan hal yang sama pada diri sendiri ( pasti akan sakit, nah bayangkanlah rasa sakit itu akan anak rasakan jika bunda memukul atau mencubit anak )
  3. Pahamilah, anak – anak itu ya anak – anak. Bukan orang dewasa! 

Anak merupakan makhluk yang sedang mengalami proses pengembangan dan akan terus berkembang bahkan hingga ia menuju dewasa. Jangan samakan cara berfikir anak dengan orang dewasa. Otaknya masih mengalami perkembangan. jika kita hujani dengan bentakan dan marah, maka sambungan neuron atau sel-sel di otak akan mengalami kematian dan menyebabkan anak mengalami hal – hal berikut :

  1. Gangguan konsentrasi
  2. Sulit mengambil keputusan
  3. Tidak memiliki kepercayaan diri
  4. Mudah merasa takut

Melihat dampak negatif dari seringnya anak mendapat bentakan diatas tentu mengerikan bukan? maka seorang ibu, sudah selayaknya melakukan perbaikan diri sendiri dan memperkaya diri dengan ilmu dan informasi. 

Kepada para suami dan keluarga, ayo bantu para ibu agar dapat mengontrol emosi dan memberikan dukungan sepenuhnya pada ibu. Agar tidak ada lagi berita viral seorang ibu tega membunuh anak nya di berita. Cukup sudah sampai disini. 

Bagaimana Cara Mengontrol Emosi Terhadap Anak
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Open chat
Butuh Informasi ?